
DETIKMETRO.SITE, Jakarta – Dr. Audrey Tangkudung, M.Si Konsultan Mitra BGN Makan Bergizi Gratis yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor bidang inovasi dan kemahasiswaan IBMA Asmi menjelaskan tantangan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (08/8/2025).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto salah satu langkah strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Program ini bertujuan meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Program ini diharapkan dapat menjawab masalah gizi buruk dan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.
Dalam wawancaranya, Jumat (8/8/2025), Dr. Audrey menjelaskan kepada tim detikmetro.site yang mengunjungi Kampus ASMI yang akan menjadi Kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dan Kampus pertama yang mensupport Makan Bergizi Gratis dari BGN. Di jalan Pulomas, Kayu Putih, Jakarta Timur.
Kantor satuan pelayanan ini melayani berbagai sekolah di Jakarta dan turut meninjau dapur sehat yang dilengkapi peralatan berkualitas.
Dr. Audrey menegaskan pentingnya pengawasan langsung terhadap kebersihan dan kelayakan fasilitas dapur. Saya memantau, memonitor 30 dapur di seluruh Indonesia. saya harus melihat langsung kondisi bangunan, kebersihan, dan higienitasnya. Semua ini dijalankan secara profesional,”
Awalnya, sulit mengajak masyarakat bermitra karena ketidak pastian pencairan dana APBN pada Januari – April. Mitra swasta yang membangun dan melengkapi dapur sendiri baru tertarik setelah pembayaran di muka dari BGN pada bulan Juni, setelah APBN turun. jelas Dr. Audrey.
Dr. Audrey menjelaskan, Untuk bermitra dalam program makan bergizi gratis ini tidak ada lelang, ini penunjukan. Ya, penunjukan dari pemerintah. Sampai saat ini enggak ada lelang karena Penunjukan saja orang enggak mau bikin. Jadi dapur ini dari bulan Desember, Januari, Februarin, Pemerintah sulit mengajak masyarakat untuk bangun dapur. Karena masyarakat, masih belum yakin atau masih ragu-ragu.
Sehingga untuk terjun ke bisnis membangun dapur istilahnya itu mitra Badan Gizi Nasional, tidak semudah dan segampang yang dibayangkan. Karena banyak sekali hal-hal yang membuat dapur ini sulit. Pertama, oke, banyak simpang siur yang tadi takut tidak dibayar oleh pemerintah. Memang pada bulan Januari, Februari, Maret itu, dana MBG ini belum turun oleh APBN. Iya, belum ketok palu, anggaran tidak turun.
Jadi pada saat itu, di Januari, Februari, Maret sampai April itu tidak banyak dapur yang mau bermitra, kecuali ada dua jenis yang berjalan, yang satu yang dibangun oleh pemerintah, yang dikelola oleh kodim-kodim. Satunya lagi mitra dari swasta yang tertarik untuk berkontribusi, mereka bangun dapur, kemudian mereka menyiapkan semua itu. Beli meja, beli kompor, beli peralatan dapur dan lain-lain. Kemudian kalau mereka sudah siap, Pemerintah kasih kontrak. Kasih kontrak, uang untuk beli bahan-bahan juga nggak ada pada waktu itu, Mereka siapin sendiri, beli beras, beli dagingnya, beli ayam, dan sayur dan sebagainya. Nanti, sesudah 2 minggu, baru pembayaran. Invoice dikirim, baru dibayar oleh pemerintah.
Tetapi, itu pun kondisinya susah, karena apa kondisinya susah karena APBN belum turun, Nah, kemudian nanti April, Mei, baru APBN turun, baru pemerintah bisa bayar. Bahkan sejak bulan Juni, sejak bulan Juni sesudah lebaran kalau nggak salah saya itu sudah pembayarannya di muka. Dua minggu di muka dibayar dulu sama BGN. Nah, jadi pada sesudah dibayar di muka oleh BGN, baru dapur-dapur swasta itu baru tertarik mereka.
Tetapi pada saat itu, Untuk membeli ompreng, harganya mahal karena produsen ompreng dalam negeri itu menaikkan harga, bermain di harga. Nah, ini yang tidak bagus. Akhirnya harga jadi Rp. 70.000, Rp. 80.000. Nah, kalau di Papua malah harganya Rp100.000 satu. Permintaan meningkat, mereka menaikkan harga. Nah, di situ harga naik, barang tidak ada, harga jadi mahal, ya. Hukum ekonomi kan? Kalau barang sedikit, permintaan banyak, jadi naik. Akibat dari itu kan kesulitan.Kalau kesulitan pemerintah tidak bisa menjalankan proyek makan bergizi gratis. Jadi pemerintah kendorin untuk impor, akhirnya masuklah barang – barang. Di Cina kan harganya Rp. 20.000/ompreng, iya. Dengan ongkos-ongkos kirim paling juga Rp. 10.000.
Jadi menurut Bapak, pernyataan dari pengusaha /produsen lokal food tray yang mengatakan bahwa food tray impor itu, tidak sesuai SNI-nya dan bukan standar 304, itu enggak benar, ya, Pak? Mungkin ada, tapi tidak semuanya. ada sedikit-sedikit lah. Tetapi tidak semuanya begitu. sebenarnya itu bisa kelihatan kalau kita sudah biasa ya. Ada standar ketebalannya itu ompreng atau foot tray jika terlalu ringan, sudah ketahuan ini pasti ini tidak standar. Stainless mungkin cuma lapisan atas, mungkin ya.
Menanggapi keluhan pengusaha lokal food tray dalam negeri karena besarnya harga bahan baku dan pajak sementara barang dari luar bebas pajak Dr. Audrey menyarankan supaya Pengusaha atau produsen lokal ompreng dalam negeri ini harus bekerjalah sama BUMN atau pemerintah agar mereka bisa mensuplai ke dapur-dapur yang ada. Tapi itu melalui BUMN saja. Nah, tetapi kalau mereka melarang impor sementara mereka tidak sanggup menyediakan, kan barang jadi mahal.Ya, kan nggak mungkin itu, maka ada positifnya, ada negatif. Jadi, positifnya dalam negeri bisa berkembang, tapi negatifnya harga mahal. Nggak bisa juga pengusaha dapur itu membeli, kan kalau mahal kan kasihan juga.Itu yang berdampak bagaimana harga suplay tidak dimainkan baik oleh calo maupun lain-lain. Nah, itu harus, harus dipikirkan juga.menurut saya seperti itu. Kalau seandainya tidak boleh barang masuk dari luar. Jelas Dr. Audrey
Sistem pendistribusian ompreng memastikan ompreng digunakan satu hari dan langsung diambil kembali untuk dicuci dan disterilkan, mencegah kehilangan dan menjaga kebersihan. Meskipun ada beberapa kasus keracunan makanan (misalnya di Bogor akibat listrik mati yang menyebabkan ikan basi), Secara keseluruhan program MBG dinilai sukses.
Program Makan Bergizi Gratis ini menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal (terutama di daerah terpencil contohnya seperti Aceh, Bima, Kalimantan, Papua), di Aceh saat ini ada 10 dapur, 1satu dapur mengalir 1miliar, itu sudah 10 miliar berputar di situdi jadi orang-orang membutuhkan pekerjaan dengan ini ada, masuk.dan meningkatkan gizi anak-anak yang sebelumnya mengkonsumsi makanan tidak sehat.
Untuk membantu berjalannya program makan bergizi gratis (MBG) Kampus IBMA Asmi yang sedang mempersiapkan Dapur higenis MBG, dan menjadi kampus pertama yang mendukung program MBG, Dapur akan mulai beroperasi Tanggal 24 Agustus 2025.
Dr. Audrey berharap program MBG berkelanjutan dan didukung penuh oleh seluruh elemen masyarakat, untuk menghasilkan generasi muda yang sehat, berkualitas emas yang pintar dan bisa bersaing dengan generasi muda dari negara-negara lain.MBG ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan, perputaran ekonomi. Saya kira itu harapan saya, jangan sampai ini berhenti di tengah jalan karena sudah terbukti ini sangat bagus buat masyarakat. (Mwys)
